You are here
Home > Wawasan

Pada tahun 1920-an, Ki Hajar Dewantara memperkenalkan nama “Nusantara” untuk menyebut wilayah HindiaBelanda yang tidak memiliki unsur bahasa asing (“India”). Hal ini dikemukakan karena Belanda, sebagai penjajah, lebih suka menggunakan istilah Indie (“Hindia”), yang menimbulkan banyak kerancuan dengan literatur berbahasa lain. Definisi ini jelas berbeda dari definisi pada abad ke-14. Pada tahap pengusulan ini, istilah itu “bersaing” dengan alternatif lainnya, seperti “Indonesië” (Indonesia) dan “Insulinde”. Istilah yang terakhir ini diperkenalkan oleh Eduard Douwes Dekker.

NUSANTARA TIME LINE
Pleistosen Bentuk geologis modern Indonesia muncul, namun masih terpaut pada daratan benua Asia.
2 juta sampai 500.000 tahun SM Nusantara dihuni oleh Homo erectus
100.000 SM Nusantara dihuni oleh Bangsa Atlantis ?
65.000 SM Gunung di Sumatera meletus dahsyat membentuk Danau Toba (kiamat)?
40.000 SM Bangsa-bangsa Melanesia dan Australoid bermigrasi ke Nusantara.
3.000 SM Bangsa Austronesia mulai bermigrasi ke Nusantara secara sporadis via formosa.
1500 SM Migrasi Protomalayu (bagian dari Bangsa Austronesia)
500 SM Eksodus Deutromalayu (akibat tekanan bangsa Han) dari Yunan dan India Timur ke Nusantara
2 SM Berdiri kerajaan Malayu Kuno di Sumatera
1 SM Mulai berdiri kerajaan-kerjaan bercorak Malayu Asli di Seantero Nusantara.
2 M Mulai berdiri kerajaan Malayu bercorak Hindu Budha Kuno di Sumatera, Jawa dan Kalimantan.
5 M Kerajaan Tarumanagara di Pulau Jawa.
682 M Kerajaan Sriwijaya, Prasasti Kedukan Bukit (Palembang, Sumatra Selatan).
732 M Dinasti Sanjaya didirikan menurut Prasasti Canggal.
800 M Konfederasi Sriwijaya mulai dibangun.
824 M Candi Borobudur dibangun oleh Samaratungga dari Dinasti Syailendra.
850 M Candi Prambanan atau Rara Jonggrang dibangun.
1200-an M Islam mulai muncul di daerah Aceh.
1222 M Ken Arok menyerang kerajaan Kediri & berhasil membunuh Jayakatwang.. Ken Arok kemudian mendirikan kerajaan Singasari.
1280 M Pamalayu I (aliansi Singosari-Dharmasraya).
Penyerbuan Bangsa Mongol/Han atas perintah Kubilai Khan ke Tanah Jawa
1293 M Kerajaan Majapahit didirikan.
1310 M Konfederasi Majapahit mulai dibangun.
1347 M Kerajaan Pagaruyung didirikan oleh Adhityawarman di Sumatera.
1403 M Pamalayu II ( Perang Saudara terBesar di Nusantara )
1415  M Armada Laksamana Cheng Ho berlabuh di Muara Jati, Cirebon.
15  M Wali Songo.
1478  M Kerajaan Islam Demak berdiri di Pulau Jawa.
1511 M Bangsa Portugis menaklukkan kota Melaka.
1596 M Bangsa Belanda pertama kali tiba di wilayah Nusantara ketika sebuah armada yang dipimpin oleh Cornelius de Houtman berlabuh di Banten.
20 Maret 1602 Berdirinya VOC
18 November 1667 Perjanjian Bungaya ditandatangani di Bungaya, Gowa antara pihak Kesultanan Gowa dengan pihak VOC.
9 Oktober 1740 Pembantaian warga Tionghoa di Batavia.
13 Februari 1755 Perjanjian Giyanti di mana Kerajaan Mataram dibagi menjadi Kasunanan Surakarta dan Kasultanan Ngayogyakarta.
31 Desember 1799 Vereenigde Oost-Indische Compaigne (VOC) dibubarkan.
1820-1837 Perang Paderi
1825-1830 Perang Diponegoro
1870 Perang Aceh
Perang Dunia II
17 Agus 1945 Proklamasi NKRI
21Juli 5Agus1947 Belanda melancarkan agresi militer pertamanya.
19Des1948  5Jan 1949 M Belanda melancarkan agresi militer keduanya.
17 Januari 1948 M Perjanjian Renville
1949 Berdiri RIS
1949 Berdiri NII, di Proklamirkan oleh SM Karto
1950 RIS kembali ke bentuk NKRI.
Pemberontakan DI / TII
Pemberontakan PRRI / PERMESTA
1965 Tragedi Gestapu
1998 Tragedi Reformasi 1998

Sejarah Nusantara dalam tulisan ini dimaknai sebagai catatan mengenai rangkaian peristiwa yang terjadi di kepulauan antara Benua Asia dan Benua Australia sebelum berdirinya Republik Indonesia, Malaysia, Philipina.

Latar belakang alam
Wilayah utama daratan Nusantara terbentuk dari dua ujung Superbenua Pangaea di Era Mesozoikum (250 juta tahun yang lalu), namun bagian dari lempeng benua yang berbeda. Dua bagian ini bergerak mendekat akibat pergerakan lempengnya, sehingga di saat Zaman Es terakhir telah terbentuk selat besar di antara Paparan Sunda di barat dan Paparan Sahul di timur. Pulau Sulawesi dan pulau-pulau di sekitarnya mengisi ruang di antara dua bagian benua yang berseberangan. Kepulauan antara ini oleh para ahli biologi sekarang disebut sebagai Wallacea, suatu kawasan yang memiliki distribusi fauna yang unik. Situasi geologi dan geografi ini berimplikasi pada aspek topografi, iklim, kesuburan tanah, sebaran makhluk hidup (khususnya tumbuhan dan hewan), serta migrasi manusia di wilayah ini.

Bagian pertemuan Lempeng Eurasia di barat, Lempeng Indo-Australia di selatan, dan Lempeng Pasifik di timur laut menjadi daerah vulkanik aktif yang memberi kekayaan mineral bagi tanah di sekitarnya sehingga sangat baik bagi pertanian, namun juga rawan gempa bumi. Pertemuan lempeng benua ini juga mengangkat sebagian dasar laut ke atas mengakibatkan adanya formasi perbukitan karst yang kaya gua di sejumlah tempat. Fosil-fosil hewan laut ditemukan di kawasan ini.

Nusantara terletak di daerah tropika, yang berarti memiliki laut hangat dan mendapat penyinaran cahaya matahari terus-menerus sepanjang tahun dengan intensitas tinggi. Situasi ini mendorong terbentuknya ekosistem yang kaya keanekaragaman makhluk hidup, baik tumbuhan maupun hewan. Lautnya hangat dan menjadi titik pertemuan dua samudera besar. Selat di antara dua bagian benua (Wallacea) merupakan bagian dari arus laut dari Samudera Hindia ke Samudera Pasifik yang kaya sumberdaya laut. Terumbu karang di wilayah ini merupakan tempat dengan keanekaragaman hayati sangat tinggi. Kekayaan alam di darat dan laut mewarnai kultur awal masyarakat penghuninya. Banyak di antara penduduk asli yang hidup mengandalkan pada kekayaan laut dan membuat mereka memahami navigasi pelayaran dasar, dan kelak membantu dalam penghunian wilayah Pasifik (Oseania).

Benua Australia dan perairan Samudera Hindia dan Pasifik di sisi lain memberikan faktor variasi iklim tahunan yang penting. Nusantara dipengaruhi oleh sistem muson dengan akibat banyak tempat yang mengalami perbedaan ketersediaan air dalam setahun. Sebagian besar wilayah mengenal musim kemarau dan musim penghujan. Bagi pelaut dikenal angin barat (terjadi pada musim penghujan) dan angin timur. Pada era perdagangan antarpulau yang mengandalkan kapal berlayar, pola angin ini sangat penting dalam penjadwalan perdagangan.

Dari sudut persebaran makhluk hidup, wilayah ini merupakan titik pertemuan dua provinsi flora dan tipe fauna yang berbeda, sebagai akibat proses evolusi yang berjalan terpisah, namun kemudian bertemu. Wilayah bagian Paparan Sunda, yang selalu tidak jauh dari ekuator, memiliki fauna tipe Eurasia, sedangkan wilayah bagian Paparan Sahul di timur memiliki fauna tipe Australia. Kawasan Wallacea membentuk “jembatan” bagi percampuran dua tipe ini, namun karena agak terisolasi ia memiliki tipe yang khas. Hal ini disadari oleh sejumlah sarjana dari abad ke-19, seperti Alfred Wallace, Max Carl Wilhelm Weber, dan Richard Lydecker. Berbeda dengan fauna, sebaran flora (tumbuhan) di wilayah ini lebih tercampur, bahkan membentuk suatu provinsi flora yang khas, berbeda dari tipe di India dan Asia Timur maupun kawasan kering Australia, yang dinamakan oleh botaniwan sebagai Malesia. Migrasi manusia kemudian mendorong persebaran flora di daerah ini lebih jauh dan juga masuknya tumbuhan dan hewan asing dari daratan Eurasia, Amerika, dan Afrika pada masa sejarah.

Zaman prasejarah
Fosil-fosil Homo erectus yang ditemukan di beberapa tapak di Jawa menunjukkan kemungkinan kontinuitas populasi mulai dari 1,7 juta tahun (Sangiran) hingga 50.000 tahun yang lalu (Ngandong). Rentang waktu yang panjang menunjukkan perubahan fitur yang berakibat pada dua subspesies berbeda (H. erectus paleojavanicus yang lebih tua daripada H. erectus soloensis). Swisher (1996) mengajukan tesis bahwa hingga 50.000 tahun yang lalu mereka telah hidup sezaman dengan manusia modern H. sapiens. [1]

Migrasi H. sapiens (manusia modern) masuk ke wilayah Nusantara diperkirakan terjadi pada rentang waktu antara 160.000 dan 100.000 sampai tahun yang lalu. Masyarakat berciri fisik Austrolomelanesoid, yang kelak menjadi moyang beberapa suku pribumi di Semenanjung Malaya (Semang), Filipina (Negrito), Aborigin Australia, Papua, dan Melanesia, memasuki kawasan Paparan Sunda. Mereka kemudian bergerak ke timur. Gua Niah di Sarawak memiliki sisa kerangka tertua yang mewakili masyarakat ini (berumur sekitar 60 sampai 50 ribu tahun). Sisa-sisa tengkorak ditemukan pula di gua-gua daerah karst di Jawa (Pegunungan Sewu). Mereka adalah pendukung kultur Paleolitikum yang belum mengenal budidaya tanaman atau beternak dan hidup meramu (hunt and gathering).

Penemuan seri kerangka makhluk mirip manusia di Liang Bua, Pulau Flores, membuka kemungkinan adanya spesies hominid ketiga, yang saat ini dikenal sebagai H. floresiensis.

Selanjutnya kira-kira 2000 tahun sebelum Masehi, perpindahan besar-besaran masuk ke kepulauan Nusantara (migrasi) dilakukan oleh ras Austronesia dari Yunan dan mereka menjadi nenek moyang suku-suku di wilayah Nusantara bagian barat. Mereka datang dalam 2 gelombang kedatangan yaitu sekitar tahun 2.500 SM dan 1.500 SM.

Bangsa nenek moyang ini telah memiliki peradaban yang cukup baik, mereka paham cara bertani yang lebih baik, ilmu pelayaran bahkan astronomi. Mereka juga sudah memiliki sistem tata pemerintahan sederhana serta memiliki pemimpin (raja kecil). Kedatangan imigran dari India pada abad-abad akhir Sebelum Masehi memperkenalkan kepada mereka sistem tata pemerintahan yang lebih maju (kerajaan).

Periode protosejarah

Kontak dengan dunia luar diketahui dari catatan-catatan yang ditulis orang Tiongkok hingga Yunani, yang sangat sedikit. Dari sana diketahui bahwa telah terdapat masyarakat yang berdagang dengan mereka. Objek perdagangan terutama adalah hasil hutan atau kebun, seperti berbagai rempah-rempah, seperti lada, gaharu, cendana, pala, kemenyan, serta gambir, dan juga emas dan perak. Titik-titik perdagangan telah tumbuh, dipimpin oleh semacam penguasa yang dipilih oleh warga atau diwarisi secara turun-temurun. Catatan Tiongkok menyebutkan bahwa pada abad-abad pertama masehi diketahui ada masyarakat beragama Buddha, Hindu, serta animisme. Temuan-temuan arkeologi dari beberapa ratus tahun sebelum masehi hingga periode Hindu-Buddha menunjukkan masih meluasnya budaya Megalitikum, bersamaan dengan budaya Perundagian. Catatan Arab menyebutkan pedagang-pedagang dari timur berlayar hingga pantai timur Afrika. Peta Ptolemeus, penduduk Aleksandria, menuliskan Chersonesos aurea (“Semenanjung Emas”) untuk wilayah yang kemungkinan adalah Semenanjung Malaya atau Pulau Sumatera.


Top